KISAH PENGUSAHA SUKSES
KISAH PENGUSAHA
Garibaldi Thohir atau akrab disapa Boy
Thohir telah melakoni berbagai macam bisnis, di bidang properti,
multifinansing, dan terakhir tambang batubara di bawah bendera PT Adaro Energy
Tbk sebagai Presiden Direktur. Selama puluhan tahun merintis bisnis,
berkali-kali ia harus jatuh, namun dia pantang menyerah.
Melongok sepak terjangnya sebagai
pengusaha, Kakak dari Erick Tohir, pemilik klub sepakbola Inter Milan ini
pernah mendirikan perusahaan properti di kawasan Kasablanka, Jakarta. Namun
tidak berjalan mulus.
Kemudian, Boy Thohir bergabung dengan
perusahaan tambang di Sawah Lunto, Sumatera Barat, yakni PT Aliied Indo Coal di
1992. Lagi-lagi, Boy harus menderita kerugian karena rendahnya harga batubara
di periode tersebut.
Perjalanan hidup berlanjut. Boy
Thohir di 1997, memulai bisnis multifinansial atau kredit pembiayaan motor. Ia
mendirikan PT WOM Finance dengan modal Rp 5 miliar dan pinjaman perbankan Rp 50
miliar. Boy tetap membangun perusahaan tersebut dengan kerja keras dan
integritas meski ia harus kembali menelan pil pahit tertimpa krisis moneter di
1998.
Saat itu, diakui Boy Thohir, kredit
macet membengkak. Perusahaan nyaris bangkrut. "Saat krisis, perusahaan
saya hampir bangkrut. Apa kata orang tua saya, apa kata dunia kalau sampai
bangkrut, padahal sudah dikasih modal. Karena tantangan anak pengusaha berbeda
dengan yang betul-betul membangun usaha tanpa ada garis keturunan
pengusaha," jelasnya.
Krisis moneter menyebabkan banyak
kredit macet, sehingga kredit motor nasabahnya pun tak terbayar. Orang terkaya
ke-42 di Indonesia versi Forbes (2015) ini akhirnya menarik kembali motor-motor
nasabah yang sudah dibiayai perusahaan. Beruntung, motor-motor yang dijual
kembali itu harganya tinggi seiring devaluasi kurs rupiah.
"Yang tadinya kita beri kredit
untuk motor seharga Rp 4,5 juta per unit di 1998, karena devaluasi motor dijual
kembali seharga Rp 12 juta. Akhirnya di 1999, uang Rp 55 miliar tidak jadi
hilang, malah kekumpul lagi," papar Boy Thohir.
Dengan strategi jitu,
Boy akhirnya mampu melewati fase kritis itu. Kondisi ini didukung dengan
membaiknya penjualan motor pada 2001-2003. Di 2003, Pria kelahiran Jakarta, 51
tahun silam itu sukses mengantarkan WOM Finance melantai di Bursa Efek
Indonesia (BEI).
"WOM Finance go public dengan valuasi Rp 1,5 triliun. Jadi kalau dipikir-pikir modal tadi Rp 5 miliar, menjadi Rp 1,5 triliun, tidak masuk akal. Itulah kalau kita punya reputasi baik, mau cari pendanaan lewat pasar modal pun bisa. Jadi kaya dalam bentuk aset," terangnya.
"WOM Finance go public dengan valuasi Rp 1,5 triliun. Jadi kalau dipikir-pikir modal tadi Rp 5 miliar, menjadi Rp 1,5 triliun, tidak masuk akal. Itulah kalau kita punya reputasi baik, mau cari pendanaan lewat pasar modal pun bisa. Jadi kaya dalam bentuk aset," terangnya.
Boy Thohir bilang, jika perusahaan
memiliki reputasi baik dan bisnis model tepat, maka uang akan dengan sendirinya
mengalir. Perbankan, investor, dan pasar modal akan bersedia memberikan
pendanaan dengan memperhatikan kinerja perusahaan dan penerapan tata kelola
perusahaan secara benar.
Komentar
Posting Komentar